
TAWANGSARI – Guna mencegah hilangnya kekayaan intelektual lokal, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IDBU-12 Universitas Diponegoro (UNDIP) menghadirkan program kerja pendokumentasian pengetahuan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Tawangsari pada 30 Juli 2026. Program yang difokuskan pada komunitas UPPKA Melati ini digagas oleh Dwi Utari, mahasiswi S1 Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Budaya, sebagai wujud nyata pengabdian akademisi dalam mengabadikan pengetahuan lokal masyarakat Desa Tawangsari.

Inisiatif ini muncul dari temuan lapangan yang menunjukkan bahwa sektor UMKM Desa Tawangsari memiliki prospek yang sangat menjanjikan lewat deretan produk unggulannya, seperti karak beras non-boraks, keripik pare, dan kain batik Sriekandi Patra. Sayangnya, wawasan berharga seperti teknik produksi hingga racikan resep andalan para pengusaha lokal masih berupa pengetahuan implisit (tacit knowledge) yang diwariskan sebatas dari mulut ke mulut. Tanpa adanya pendokumentasian, aset intelektual ini terancam punah seiring berjalannya waktu, terutama jika para pelaku usaha tidak lagi beroperasi. Oleh karena itu, pengubahan tradisi lisan menjadi dokumen tertulis (explicit knowledge) menjadi langkah mendesak guna menjaga kelestarian pengetahuan lokal.
Dalam praktiknya, pendokumentasian ini mengedepankan pendekatan observasi partisipatif yang dipadukan dengan wawancara teknis. Mahasiswa datang langsung mendampingi para pelaku usaha untuk merinci kebutuhan bahan, takaran pasti, hingga tahapan pembuatan karak beras, keripik pare, dan kain batik Sriekandi Patra yang sebelumnya belum pernah dibukukan. Kumpulan pengetahuan dan pengalaman praktis dari para produsen kemudian diolah dan diterjemahkan ke dalam bahasa yang sistematis dan mudah dipahami.

Sebagai akhir dari kegiatan pendokumentasian ini, “Modul Pengetahuan Lokal Produk Unggulan Desa Tawangsari” diserahkan secara langsung kepada Ibu Sumi selaku Ketua UPPKA Melati pada Senin, 3 Agustus 2026. Modul yang memuat rincian resep dan proses produksi tersebut kini dipajang secara permanen di Pojok UMKM Sudut Karya Melati agar mudah diakses oleh anggota komunitas maupun masyarakat luas.
Pemilihan Pojok UMKM sebagai pusat penempatan modul tidak terlepas dari besarnya potensi UPPKA Melati yang telah berdiri sejak tahun 2015 dan mendapat dukungan program CSR dari Pertamina. Eksistensi UPPKA Melati telah mengundang perhatian luas, terbukti dari tingginya angka kunjungan dari berbagai pihak, mulai dari jajaran pemerintah setempat, instansi swasta, hingga tamu dari mancanegara. Merespons tingginya antusiasme tersebut, Pojok UMKM Sudut Karya Melati dirancang khusus untuk berfungsi sebagai etalase dan pusat informasi terpadu seputar profil dan produk UMKM di Desa Tawangsari.
Dengan hadirnya modul pengetahuan lokal di sudut informasi tersebut, Desa Tawangsari kini tidak hanya memiliki sarana edukasi bagi pelaku UMKM untuk menjaga orisinalitas produk unggulan seperti karak beras non-boraks, keripik pare, dan Sriekandi Patra, tetapi juga memiliki pusat informasi yang representatif bagi setiap tamu yang berkunjung. Langkah ini menjadi wujud nyata pengelolaan informasi yang berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan perekonomian sekaligus melestarikan pengetahuan lokal lintas generasi.
Penulis: Dwi Utari
