
TAWANGSARI – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IDBU-12 Universitas Diponegoro, Gita, menginisiasi program pengolahan sampah sisa makanan melalui metode Takakura di MI Muhammadiyah (MIM) Tawangsari. Kegiatan diawali dengan sosialisasi penggunaan alat Takakura pada 20 Juli 2026, dan dilanjutkan dengan penyerahan dua unit alat Takakura beserta plang, poster edukasi, dan modul panduan pada 4 Agustus 2026. Program ini merupakan salah satu Program Kerja (Proker) yang dilaksanakan oleh Kelompok 2 Tim KKNT IDBU-12 Universitas Diponegoro selama periode KKN berlangsung, yaitu 2 Juli hingga 10 Agustus 2026.

Program ini lahir dari kondisi yang ditemukan di lingkungan MIM Tawangsari, Di mana sisa makanan siang siswa masih dibuang tanpa dipilah terlebih dahulu. Sampah Organik tersebut kemudian diangkut setiap hari oleh petugas kebersihan untuk dibawa langsung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tanpa melalui proses pengolahan apapun. Kondisi ini mendorong perlunya solusi sederhana namun aplikatif yang dapat diterapkan secara mandiri oleh pihak sekolah, salah satunya melalui metode Takakura – Teknik pengomposan sampah organik menggunakan keranjang berisi media kompos aktif yang dikenal minim bau dan mudah dioperasikan.
Pelaksanaan program ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung pada 20 Juli 2026 berupa sosialisasi kepada pihak sekolah mengenai konsep dasar Takakura, manfaatnya bagi lingkungan, serta cara penggunaan dan perawatan alat. Pada tahap ini, siswa dan guru diperkenalkan pada proses pengomposan sederhana yang dapat dilakukan langsung dari sisa makanan sehari-hari. Tahap kedua dilaksanakan pada 4 Agustus 2026, yaitu penyerahan resmi dua unit alat Takakura kepada pihak MIM Tawangsari, disertai pemasangan plang dan poster edukasi di area sekolah, serta modul panduan pembuatan dan penggunaan sebagai referensi berkelanjutan bagi guru dan siswa.
Respon yang diterima selama pelaksanaan program tergolong positif. Para siswa menunjukkan antusiasme tinggi, terutama karena mengetahui bahwa sisa makanan dapat diolah menjadi kompos tanpa menimbulkan bau tidak sedap, hal yang sebelumnya belum mereka ketahui. Pihak sekolah turut memberikan dukungan penuh terhadap program ini, karena dinilai bermanfaat secara praktis sekaligus menambah wawasan lingkungan bagi guru maupun siswa. Dukungan ini menjadi indikasi bahwa program Takakura memiliki potensi besar untuk terus digunakan sebagai bagian dari kegiatan harian sekolah.
Melalui program “Waste to Worth” ini, diharapkan pengolahan sampah organik menggunakan metode Takakura dapat terus berlanjut meskipun masa KKNT telah berakhir. Keberlanjutan program ini bergantung pada konsistensi guru dan siswa dalam memanfaatkan alat Takakura yang telah diserahkan, sehingga sisa makanan tidak lagi seluruhnya dibuang ke TPA, melainkan diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan sekolah. Dengan langkah kecil yang berkelanjutan ini, MIM Tawangsari diharapkan mampu menjadi contoh penerapan pengelolaan sampah organik berbasis sekolah yang mandiri dan ramah lingkungan.
Penulis: Dewi Gita Angrenani
