Kembali ke Berita
Berita Utama

Membangun Budaya Keselamatan Sejak Dini, Safety Rangers: Edukasi dan Simulasi Mitigasi Kebakaran di MIM Tawangsari Boyolali

admintawangsari • August 5, 2026

TAWANGSARI – Ruang kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Tawangsari, Boyolali, pagi itu terasa lebih ramai dari biasanya. Bukan karena pelajaran matematika atau bahasa Indonesia, melainkan karena kehadiran Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 12 Literasi dari Universitas Diponegoro yang datang membawa program bertajuk “Safety Rangers” sebuah upaya mitigasi dan simulasi siaga bencana kebakaran yang dirancang khusus untuk siswa sekolah dasar.

Ide program ini bermula dari pengamatan sederhana yang krusial. Selama ini, MIM Tawangsari belum memiliki jalur evakuasi maupun rambu-rambu kebencanaan yang jelas, dan siswa maupun tenaga pengajar belum pernah mendapat edukasi tentang mitigasi kebakaran. Padahal, keselamatan adalah hal mendasar yang seharusnya menjadi bagian dari lingkungan belajar sejak dini. Dari sanalah, tim KKN memutuskan untuk menjadikan isu ini sebagai program kerja utama mereka.

Kegiatan dibuka dengan sesi sosialisasi di dalam kelas bersama 40 siswa kelas VI. Dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna anak-anak, mahasiswa KKN menjelaskan apa itu kebakaran, apa saja penyebab dan dampaknya, hingga langkah-langkah yang harus dilakukan saat evakuasi darurat. Poster bergambar jalur evakuasi dan titik kumpul turut ditunjukkan satu per satu, sembari sesekali diselingi pertanyaan interaktif untuk memastikan siswa benar-benar memahami, bukan sekadar mendengarkan.

Setelah materi di kelas usai, giliran praktik lapangan yang paling dinanti. Di halaman sekolah, siswa diajak mencoba langsung cara memadamkan api sederhana menggunakan karung goni basah teknik darurat yang bisa dilakukan tanpa alat pemadam khusus. Satu per satu siswa bergantian mempraktikkan cara menutup sumber api dengan karung, didampingi ketat oleh anggota tim KKN agar simulasi tetap aman terkendali. Momen ini menjadi salah satu bagian paling seru dari keseluruhan rangkaian kegiatan, terlihat dari wajah antusias para siswa yang tak sabar menunggu giliran mereka.

Sebagai bentuk tindak lanjut yang lebih permanen, tim KKN memasang 12 signage jalur evakuasi dan 1 penanda titik kumpul di berbagai sudut strategis sekolah. Kini, jika suatu saat terjadi kondisi darurat, siswa dan guru tidak lagi bingung ke arah mana harus menyelamatkan diri. Selain signage, tim juga menyusun sebuah modul edukasi kebencanaan yang merangkum pengertian kebakaran, penyebab, dampak, hingga tata cara evakuasi secara ringkas. Modul ini diserahkan kepada pihak sekolah dan kini disimpan di perpustakaan, agar bisa terus dibaca dan dipelajari siswa maupun guru bahkan setelah program KKN selesai.

Satu hal yang membuat program ini terasa istimewa justru datang dari siswa sendiri, lewat lembar kesan-pesan yang mereka tulis di penghujung acara. Salah satu siswa menulis bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat karena mengajarkan cara menjaga diri dan memadamkan api dengan benar. Ada pula yang menuliskan rasa gembiranya bisa akhirnya mempraktikkan langsung cara memadamkan api layaknya adegan yang biasa ia tonton di film, dan menyebut momen tersebut sebagai salah satu pengalaman paling berkesan sekaligus paling seru selama masa KKN di sekolahnya.

Bagi tim KKN-T IDBU 12 Literasi, kesan-kesan sederhana itu menjadi bukti bahwa edukasi kebencanaan tidak harus terasa berat atau menakutkan bagi anak-anak. Dengan pendekatan yang menyenangkan dan langsung dipraktikkan, pesan tentang pentingnya siaga bencana justru lebih mudah tertanam. Ke depan, signage yang telah terpasang dan modul yang tersimpan di perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap fisik semata, melainkan menjadi bagian dari budaya sekolah yang lebih siap dan tanggap menghadapi risiko kebakaran, jauh setelah masa KKN berakhir.

Penulis: Vanisa Dwi Listiawati

Scroll to Top